adakah yang mau memberikan ide buat novelku yang lagi stag di bagian #4 ? | monggo dipersilahkan. =)

NAMA BAPAK ITU AMIR

Hari ini cuaca Sidimpuan begitu cerah dan matahari begitu terik seakan – akan ingin membakar seluruh isi kota. Sidimpuan seakan tak punya tempat untuk merasakan semilir angin yang membelai sejuk pundak para penghuni kota, di setiap sudut bahkan jengkal hanya ada aroma debu jalan yang bertebaran meracuni rongga pernafasan manusia. Memang, hidup di kota berkembang dan menuju sebuah provinsi seakan bukanlah pilihan baik bagi yang merindukan suasana desa yang begitu asri dan damai.

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB, aku mendengar sayup adzan Dzuhur yang menggema mengajak para muslim untuk menunaikan shalat. Lantas, kunyalakan motor matic yang menemaniku selama satu tahun ini menjelajah kota dan kupacu menuju Masjid Raya yang terletak di tengah Sidimpuan. Masjid Raya dikotaku menjadi masjid yang paling besar saat ini, kubah yang berwarna hijau dan halamannya yang luas seakan menjadi tempat primadona para orang tua untuk menikmati sisa hidup yang ingin selalu mendekatkan diri pada Allah. Kusambangi kamar mandi yang terletak disamping masjid dan ternyata masih sepi, hanya ada beberapa orang tua yang sedang sibuk membersihkan dirinya dengan wudhu lalu menuju ke dalam masjid. Aku menuju sebuah kran yang terletak di sudut kamar mandi lalu aku sucikan tubuhku yang penuh debu dan kotoran untuk bersiap menunaikan shalat Dzuhur.

Selepas shalat, aku tak langsung pergi dari masjid, aku duduk di tangga masjid sambil menikmati sejuknya udara di sekitar masjid melihat lalu lalang kendaraan yang jarak pandangnya sekitar 10 meter dari tangga masjid. Aku duduk sendiri dalam kesepian yang begitu membelenggu, tiba – tiba aku dikejutkan oleh tangan yang menepuk pundakku, jantungku seakan terlepas dan darahku berdesir. Aku memang punya masalah dalam jantung, gampang kaget dalam suasana yang rileks. Lantas, aku menoleh ke belakang ternyata seorang pria paruh baya dan berjenggot menyapaku.

“sedang apa nak ?” . aku tak langsung membalas sapaannya, kupandangi pria tersebut.

“sepertinya dia adalah seorang pengurus masjid ini” pikirku.

Pria paruh baya tersebut lalu duduk disampingku dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman, aku terima sodoran tangannya. Sepertinya bapak tersebut berumur sekitar 40 tahunan, tampak dari raut wajahnya yang terlihat mulai menua dan beberapa helai rambutnya yang tampak tumbuh uban walau hanya beberapa lembar saja. Bapak itu berbadan tegap dan kulitnya yang kecoklatan menambah kewibawaannya, seolah dia dulunya adalah pensiunan dari aparat negara,

“Amir, marga bapak Lubis” ucapnya memperkenalkan nama dan marganya padaku.

“Ikhsan, margaku nasution pak” ujarku sambil memperkenalkan nama dan margaku.

“sedang apa nak ?” tanyanya sambil membenarkan letak penutup kepalanya sambil menatapku dalam.

“ah, tidak ada apa – apa pak. Aku hanya ingin duduk saja menikmati romantisme masjid. Sudah lama aku tak berlama – lama di masjid seperti ini” ujarku sambil terus menatap hilir mudik kendaraan yang melintas 10 meter di depanku.

“tinggal kamu dimana nak ?” Tanya bapak amir lagi.

“aku tinggal di daerah Sadabuan pak, pas di simpang 3 lampu merah. Bapak tinggal dimana ?” sahutku menjawab pertanyaan bapak amir.

“oh, dimana tepatnya nak ?, kalau bapak di Jalan Kenanga di sekitaran RSUD Padangsidimpuan” jawab bapak amir.

“rumahku tepat di simpang 3 lampu merah pak, kebetulan orang tua buka usaha warung minuman disana” ucapku singkat mencoba menjelaskan detail alamat rumahku.

“oh…lumayan jauh juga kesini nak shalatnya. Ada urusan apa hingga sampai kesini ?” Tanya bapak amir seolah dia ingin tahu urusanku.

“tidak ada apa – apa pak, kebetulan tadi aku lagi ke pasar beli baju koko, tapi adzan sudah memanggil akhirnya aku kesini untuk shalat pak” jawabku sambil tersenyum.

“oh, bapak kira ada urusan yang sangat penting sampai siang terik begini keluar rumah. Biasanya kan pemuda sekarang susah keluar rumah kalau udaranya panas dan terik, takut kulitnya gosong kata mereka” bapak amir tertawa hingga memperlihatkan 2 gigi depannya yang sudah lepas.

Akupun langsung tersenyum “tetapi tidak semuanya kan pak pemuda seperti itu” jawabku.

“iya…iya bapak tahu” sahutnya dengan masih tertawa.

“oh iya, bapak lihat kamu sedang memikirkan sesuatu, ada apa nak ?” bapak amir bertanya, sepertinya dia sedang mengamatiku dari tadi sebelum dia menyapaku.

“aku tidak memikirkan apa – apa pak, aku hanya rindu dengan kota ini, sudah 3 tahun aku meninggalkannya” ujarku sambil melihat bapak amir tersebut sekilas. Aku masih asik memandang jalanan yang berjarak 10 meter dari hadapanku saat ini dipenuhi kendaraan.

“selama 3 tahun ini tinggal dimana emang nak ?”, selidiknya lagi.

“tinggal di Bandung pak, kemarin aku kuliah di Bandung, kebetulan studinya sudah selesai” jawabku lagi sambil terus memperhatikan hilir mudik kendaraan.

Kota ini semakin hari memang semakin ramai, aku bisa merasakannya dari jumlah kendaraan yang semakin meningkat dan pembangunan yang semakin pesat. Sidimpuan memang direncanakan menjadi sebuah ibukota Provinsi Sumatera Tenggara yang dicita – citakan 5 kepala daerah untuk dimekarkan.

“wah, hebat ya nak bisa kuliah disana. Bapak dulunya pengen sekali lho bisa kuliah di Pulau Jawa. Bapak bercita – cita bisa kuliah di UGM dulu, tapi apa daya orang tua bapak tak mengizinkan. Akhirnya, bapak hanya tamat SMA saja” ucap bapak amir dengan penuh keharuan, sepertinya dia sedang mencoba memutar kenangan hidupnya.

“oh iya, kuliah dimana nak di Bandung ? “ Tanya Pak Amir yang membenarkan letak duduknya.

“aku kemarin kuliah di Poltekpos Bandung pak, kebetulan ambil program D-3 disana” ucapku.

“hmm. Bapak belum pernah dengar nama kampus itu, tapi bapak yakin kampus itu mampu menciptakan pemuda seperti kamu” sahut bapak amir sambil tersenyum.

“ah, bapak bisa saja” balasku sambil tersenyum.

“bapak sudah berapa lama menjadi pengurus masjid ini” tanyaku balik, aku mencoba mengakrabkan diri dengan bapak Amir yang menurutku beliau adalah orang yang enak buat diajak ngobrol.

“bapak sudah hampir 10 tahun disini. Sejak tamat SMA bapak sempat menjadi tukang bangunan di Pekanbaru, Medan dan Sibolga sebelum akhirnya bapak menjadi pengurus masjid seperti yang kamu lihat sekarang ini” ucapnya sambil mencoba mengingat kembali kisah hidupnya.

“wah, lama juga ya pak. Pasti bapak punya pengalaman banyak, hingga bisa ke Pekanbaru, Medan dan Sibolga untuk kerja ya, bolehlah saya belajar dari pengalaman bapak” pujiku pada Bapak Amir sambil berharap dia menceritakan kisah hidupnya. Dulu sebelum Sidimpuan berkembang jauh seperti sekarang ini, mustahil bagi penduduk Sidimpuan untuk bisa bepergian keluar kota, jangankan untuk ke Medan atau Pekanbaru untuk ke Sibolga saja yang jarak tempuhnya hanya 2 jam setengah sangat susah untuk dilewati apalagi untuk bekerja disana.

Bapak Amir lantas tertawa hingga 2 gigi depannya yang lepas terlihat lagi.

“lumayan banyak anakku,mulai dari dimarahi oleh bos tempat bapak bekerja, uang yang habis bayar kontrakan hingga bapak sempat jatuh dalam lembah kegelapan sebelum akhirnya bertemu dengan istri di Sibolga. Yang paling menjadi pengalaman terburuk bagi bapak adalah ketika menjadi pengedar dan pemakai narkoba dan sibuk dalam urusan dunia yang ternyata tak ada manfaatnya sama sekali bapak rasakan, hanya akan menguras kesehatan dan pikiran yang sehat” ucapnya, seolah dia sedang bercerita kepada anak – anaknya di malam yang hening dan sunyi. Aku hanya tertegun mendengarkannya.

“Nak, Bapak dulu sempat jatuh dalam lembah kenistaan, hingga akhirnya Allah menggiring bapak untuk bertemu jalan kebenaran. Bapak ingin berbuat serta menebus segala kesalahan yang bapak perbuat, makanya bapak aktif dalam kepengurusan masjid sebagai salah satu penebusan kesalahan bapak di masa lalu.” Lirihnya.

Aku hanya mampu terdiam menyimak segala bait kalimatnya, dia sepertinya ingin bercerita untuk mencurahkan segala isi hatinya sebagai ungkapan rasa sayangnya terhadap agama dan keyakinan yang dianutnya.

“saat ini, bapak melihat apa yang menjadi kesalahan bapak pada masa muda terulang lagi kepada pemuda sekarang. Tak kah kamu lihat pemuda sekarang begitu hidup hedon ?, mereka seakan tak mengerti bahwa bumi sedang kesusahan menanggung dosa yang mereka perbuat hingga kelak nanti Allah perintahkan bumi untuk menggoncang mereka dengan goncangan yang sehebat – hebatnya, hingga seorang ibu pun lupa untuk menyusui anaknya dan seorang ayah tak menghiraukan lagi nasib anak dan istrinya. Itulah kiamat anakku, kiamat yang akan menjadi akhir dari segala kehidupan fana”. Bapak itu terus berucap tentang kesusahan hatinya, dia seolah memendam sebuah beban berat yang ingin coba diselesaikannya.

“bapak paham, dunia semakin dipenuhi oleh kepentingan duniawi. Tekanan hidup yang semakin berat menjadi permasalahan tunggal dan menetapkan pemikiran materialistik menjadi pilihan tunggal. Tetapi….” Bapak Amir memotong pembicaraannya sejenak, sepertinya dia ingin mencoba mengucapkan sesuatu.

“tetapi apa pak ?” tanyaku penuh penasaran.

“tetapi, kenapa harus hidup materialistik yang menjadi satu – satunya pilihan ?, bukankah agama bisa mendampingi tujuan hidup mereka ??” dia berkata seolah merasa geram dengan kondisi sekarang. Dia seakan – akan ingin berbuat sesuatu yang besar, tapi daya dan upaya membatasi segala keinginannya.

“sabar pak, aku tahu apa yang menjadi beban pikiran bapak dan apa yang menjadi motivasi bapak untuk menuntaskan masalah kepemudaan. Kita tak bisa berbuat secara instan pak, mungkin dengan bapak aktif di kepengurusan masjid akan menjadi salah satu jalan untuk menghimpun pemuda yang mencintai kehidupan yang beragama dan mencintai Allah sepenuh hati dan raga mereka. Bersabarlah pak, ini akan menjadi bagian dari proses menuju kepemudaan yang madani insya Allah” sahutku sambil tersenyum dan mencoba menguatkan hati Bapak Amir.

Aku paham dengan apa yang dirasakan Bapak Amir saat ini, dia ingin mencoba memecahkan segala tembok yang menjadi penghalang pemuda untuk bersatu dengan Islam secara kaffah. Tembok yang menjadi penghalang itu adalah hedonisme yang saat ini membelenggu para pemuda, yang menciptakan rantai besi dan mengikat tubuh mereka seolah tak ada satupun kunci yang mampu membuka gemboknya. Dengan semangat seperti Bapak Amir lah yang menjadi kunci untuk membuka gembok rantai yang membelenggu pemuda sekarang.

Pembicaraan antara kami menjadi hening sejenak, angin sejuk di sekitar masjid seolah memberikan kenyamanan buatku untuk semakin betah berlama – lama di tangga masjid. Kulirik jam yang terikat di tangan kananku ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 14.28 WIB, tetapi cuaca tak menunjukkan tanda – tanda untuk meredakan sengatannya kepada penduduk kota. Matahari semakin terik dan silau, bagai jilatan api yang menyambar para ibu yang sedang asik memasak dengan kayu bakar di daerah pedalaman sana.

Di dunia ini, banyak hal yang tak kita sadari terjadi begitu saja seolah semua sudah menjadi susunan dan rangkaian kehidupan yang sempurna dan bahkan manusia akibat ketidaksadarannya mengatakan bahwa yang terjadi dalam kehidupan adalah kebetulan belaka. Bagiku, kehidupan yang tersusun secara rapi dan sistematika ini bukanlah sebuah kebetulan, begitupun pertemuanku dengan Bapak Amir yang umurnya lebih tua dariku pun bukan kebetulan. Hingga saat ini, aku memang sedang sibuk mencari teman yang bisa diajak diskusi dan ngobrol tentang kepemudaan di kota Sidimpuan, tetapi alangkah susahnya mencari seorang pemuda diantara ribuan pemuda di kota ini hingga Allah menakdirkanku untuk bertemu seorang tua yang pernah terjerumus dalam lembah kenistaan hingga Allah menjadi penerang dan pembimbing jalannya menuju kebenaran. Ini bukanlah sebuah kebetulan, tapi ini benar – benar dikonsep secara rapi oleh Allah dengan segala pertimbangan – Nya atas ikhtiar hamba – Nya yang bersungguh – sungguh. Subhanallah.

Aku masih termenung sambil melihat hilir mudik kendaraan, pembicaraan kami sepertinya terhenti setelah kulihat Bapak Amir pun melamun. Entah apa yang ada dipikirannya, mungkin dia sedang memikirkan pemuda zaman ini atau ada sesuatu hal lain yang sedang dipikirkannya Wallahu a’lam.

Bapak Amir tiba – tiba menegurku lagi.

“nak, rumah bapak kan dekat dari masjid ini, bagaimana kalau singgah sejenak di rumah bapak. Yah…kita silaturahmi lah, sekalian mampir ke rumah bapak.kita kan sesama muslim dan bersaudara” ucapnya seolah dia begitu yakin dengan sesosok manusia yang baru dikenalnya di tangga masjid.

“bapak emang percaya dengan saya ?” balasku seolah mencoba meyakinkan dirinya.

Insya Allah bapak percaya, kamu sepertinya pemuda baik nak” sahutnya seolah dia benar yakin dengan diriku.

“ya sudah pak, mari” ucapku menerima ajakan bapak amir.

Akhirnya kami pergi menuju rumah beliau dengan menggunakan dua motor, satu motor bapak amir dan satunya lagi motor matic kesayanganku. Tak butuh waktu lama untuk mencapai rumah pak amir, hanya sekitar 10 menit naik motor dari Masjid Raya. Kamipun tiba di halaman rumah pak amir yang kecil tapi terawat. Halaman rumahnya begitu bersih, dan sebatang pohon mangga menambah keindahan halaman rumah bapak amir ditemani beberapa bunga hias yang menambah kesejukan rumahnya.

“ah, ternyata bapak amir begitu pandai menghias rumahnya” pikirku.

“Assalamualaikum istriku” ucap pak amir sambil mengetuk pintu rumahnya.

Tiba – tiba muncullah sesosok wanita dari dalam rumah menjawab salam pak amir.

“waalaikumsalam suamiku” ucapnya sambil tersenyum.

Wanita yang kuketahui sebagai istrinya kala itu mengenakan hijab berwarna keunguan dan ditambah jilbab berwarna putih polos yang menjulur ke seluruh tubuhnya menambah keanggunan beliau sebagai sesosok istri yang taat pada suaminya. Senyum kala menyambut suaminya semakin menambah keirianku untuk segera cepat menikah agar dapat bermesraan di kala sang istri menyambut suaminya pulang kerumah dengan senyum dan cinta. Wanita itu mencium tangan kanan bapak amir bentuk wujud cintanya sebagai istri dan membuktikan dia adalah sesosok pengokoh mahligai rumah tangga yang mereka bina. Subhanallah, sungguh indah suasana yang sedang kutemui itu. Bagaikan keduanya sedang menenun sutra cinta agar menjadi kain yang indah dipandang dan dijadikan panutan bagi orang banyak, saat ini sangat jarang kutemui keluarga yang mampu membangun cinta yang indah seperti keluarga bapak amir.

“bapak dengan siapa ?” Tanya wanita itu kepada suaminya. Mungkin dia agak heran ada orang lain sedang bersama suaminya yang begitu dicintai.

“oh iya, afwan istriku belum saya kenalkan kamu dengan pemuda ini” jawab bapak amir menjawab keheranan istrinya.

“ayo masuk dulu nak” ajak bapak amir kepadaku. Bapak Amir pun melangkah masuk ke dalam rumah didampingi istrinya, aku menyusul di belakangnya.

“silahkan duduk” ujar pak amir sambil mengisyaratkan tangannya mempersilahkanku duduk.

“istriku, tolong buatkan teh manis hangat dua ya. Oh iya, jangan lupa bawakan makanan ringan juga untuk kita makan bersama dengan pemuda ini”

“baik suamiku” sahut istrinya menanggapi perkataan bapak amir.

Tak lebih dari 10 menit, istri bapak amir telah membawa teh manis hangat dan makanan ringan seperti yang dikatakan oleh pak amir.

Syukron istriku” ucap bapak amir.

“oh iya, kenalkan nak. Ini istri bapak, sudah lama hidup saya didampingi oleh wanita hebat seperti istriku ini” bapak amir memuji istrinya.

“kenalkan ibu, namaku Ikhsan” ucapku sambil menangkupkan kedua tanganku di depan dada.

 

Tentang aazroelmw

Belajar dari masa lalu, bekerja hari ini untuk masa depan gemilang. Let's Move !
Pos ini dipublikasikan di Sumber Inspirasi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s